psikologi isolasi di resort terpencil
mencari ketenangan atau justru kesepian
Mari kita mulai dengan sebuah fantasi yang mungkin sering melintas di kepala kita saat sedang lelah-lelahnya bekerja. Memesan sebuah kamar di resort yang sangat terpencil. Mungkin di tengah hutan tropis, di pinggir tebing samudra, atau di kaki gunung yang diselimuti kabut. Tidak ada sinyal internet. Tidak ada bos. Hanya kita, secangkir kopi panas, dan alam liar. Fantasi ini begitu sempurna sampai kita rela menabung berbulan-bulan demi mewujudkannya. Tapi, pernahkah kita benar-benar berada di situasi tersebut, dan bukannya merasa damai, kita justru merasa gelisah? Ada ruang kosong di dada yang tiba-tiba terasa sesak. Kita mengira kita akan menemukan zen, tapi yang datang malah perasaan asing yang mencekam. Mari kita bicarakan sebuah ironi psikologis dari liburan impian kita.
Secara historis, umat manusia memang punya obsesi panjang dengan solitude atau kesendirian. Para filsuf stoik zaman kuno, biksu di pegunungan Himalaya, hingga para penulis besar sering kali mengasingkan diri untuk mencari pencerahan. Kita secara kolektif melihat isolasi sebagai obat. Apalagi di dunia modern yang bising ini. Otak kita terus-menerus dibombardir oleh notifikasi, tuntutan pekerjaan, dan kemacetan jalan raya. Wajar jika kita mengidamkan escapism atau pelarian. Kita lalu sampai di resort mahal yang terisolasi itu. Koper sudah dibongkar. Udara terasa sangat bersih. Suara jangkrik mulai terdengar dominan. Lalu, sebuah jam pasir psikologis mulai berdetak di dalam kepala kita. Kita duduk di teras, menunggu sensasi ketenangan itu menyirami jiwa kita. Namun setelah beberapa jam, jemari kita tanpa sadar mulai mencari-cari smartphone. Kenapa otak kita malah seolah menolak kedamaian yang sudah kita bayar mahal ini?
Di sinilah ceritanya menjadi semakin menarik. Hari pertama di tempat terpencil mungkin masih terasa magis. Tapi masuk hari kedua, ketika rutinitas liburan mulai melambat, keheningan yang ada berubah tekstur. Keheningan itu perlahan terasa memekakkan telinga. Tanpa kita sadari, kita mulai merasa kesepian yang aneh. Kita berada di tempat terindah di bumi, tapi kita malah merasa terasing. Ketika kita mencabut diri kita secara paksa dari lingkungan yang penuh stimulasi, otak kita mengalami semacam sensory withdrawal atau sakau sensorik. Bayangkan sebuah pabrik bising yang mesin-mesinnya tiba-tiba dimatikan serentak. Hening total. Di saat tidak ada deadline, tidak ada suara televisi, dan tidak ada obrolan basa-basi rekan kerja, apa yang sebenarnya tersisa untuk diproses oleh otak kita? Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah realitas yang agak mengintimidasi tentang anatomi pikiran kita sendiri. Apakah selama ini kita benar-benar mencari ketenangan lingkungan, atau jangan-jangan, kita hanya sedang berusaha kabur dari kebisingan di dalam kepala kita sendiri?
Sains punya jawaban yang sangat gamblang soal ini. Jawabannya terletak pada sebuah sistem saraf di otak kita yang disebut Default Mode Network (DMN). Secara neurologis, saat kita sibuk bekerja atau membalas pesan, sistem DMN ini sedang "tidur". Tapi begitu kita sedang bengong bersantai di resort terpencil tanpa distraksi apa pun, DMN langsung menyala terang benderang. Masalah utamanya adalah, jaringan otak ini merupakan pusat dari introspeksi diri, penyesalan masa lalu, dan kekhawatiran masa depan. Saat tidak ada input atau gangguan dari dunia luar, otak kita mulai memangsa dirinya sendiri. Alih-alih menikmati pemandangan, DMN memutar ulang memori memalukan dari lima tahun lalu atau memunculkan kecemasan soal karir yang belum mapan.
Di sisi lain, ilmu psikologi evolusioner juga ikut bermain. Homo sapiens tidak dirancang secara genetik untuk hidup sendirian. Nenek moyang kita di sabana Afrika tahu betul bahwa terpisah dari kawanan berarti menjadi makan malam bagi predator. Secara insting purba, isolasi memicu pelepasan hormon kortisol atau hormon stres. Jadi, ketika kita mengisolasi diri di antah-berantah, secara logis kita tahu kita aman. Tapi secara biologis, amigdala atau pusat rasa takut di otak kita membunyikan alarm marabahaya. Kita menyebutnya healing, sementara DNA kita menyebutnya krisis kelangsungan hidup.
Jadi, apakah membuang uang ke resort terpencil itu adalah sebuah kesalahan? Tentu saja tidak, teman-teman. Memahami sains di balik fenomena ini justru memberikan kita kebebasan dan rasa welas asih pada diri sendiri. Kita jadi tahu bahwa rasa gelisah dan sepi di tengah keindahan alam itu adalah respons biologis yang sangat wajar. Kita tidak gagal menikmati liburan. Kita hanya sedang melewati masa transisi mental.
Rahasia sebenarnya bukanlah mencari isolasi absolut. Yang kita butuhkan adalah selective solitude—kesendirian yang memiliki arah. Membaca buku fiksi yang bagus, menulis jurnal, merajut, atau sekadar berjalan kaki menyusuri alam raya. Kita memberi otak kita aktivitas ringan agar sistem DMN tidak mengambil alih sepenuhnya dan mengubah ketenangan menjadi kecemasan. Lain kali kita merencanakan pelarian dari penatnya rutinitas, mari kita ingat satu hal penting ini. Kita tidak pernah bisa meninggalkan pikiran kita di ruang tunggu bandara. Pikiran itu selalu ikut terbang bersama kita. Dan mungkin, berani duduk berhadapan dengan pikiran tersebut di tengah keheningan, adalah bentuk ketenangan yang paling sejati.